hukum aqiqah anak
Kelahiran anak adalah momen yang sangat ditunggu oleh orang tua. Hadirnya sang buah hati dengan keadaan sehat membuat orang tua bersyukur.
Salah satu bentuk rasa syukur orang tua atas kelahiran anaknya adalah
menggelar acara aqiqah. Mereka menyembelih binatang ternak lalu dibagikan
kepada kerabat dan tetangga.
Aqiqah merupakan salah satu ajaran yang wajib dijalankan setiap Muslim
ketika memiliki anak. Anjuran melaksanakan aqiqah ini sesuai sunnah Rasulullah
Muhammad SAW.
Karena itu, setiap Muslim harus mengetahui tata cara aqiqah anak perempuan
dan laki-laki sesuai sunnah Rasulullah. Selain itu, Sahabat Dream juga perlu
mengetahui masalah tata cara aqiqah orang dewasa menurut Islam.
Dengan mengenal tata cara aqiqah yang sesuai sunnah, Muslim bisa
menjalankan hidupnya dengan tenang karena telah melaksanakan ibadah yang
diperintahkan Nabi Muhammad SAW. Untuk lebih jelasnya, berikut ini pengertian
aqiqah, menurut bahasa dan istilah.
Apa Itu Aqiqah?
Dari segi bahasa Arab, aqiqah berasal dari kata al qat’u yang
berarti memotong. Kata ini memiliki dua pengertian. Makna pertama adalah
memotong rambut bayi yang baru lahir. Sementara makna ke dua memotong atau
melakukan penyembelihan hewan.
Sementara, menurut istilah, aqiqah adalah proses pemotongan hewan ternak
pada hari ke tujuh setelah bayi dilahirkan. Penyembelihan hewan ternak saat
aqiqah sebagai wujud rasa syukur kepada Allah SWT.
Hukum Aqiqah Anak
aqiqah sesuai sunnah yaitu anak
perempuan dan laki-laki merujuk pada hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan
oleh Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ibnu Majah.
Yang artinya: " Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya yang
disembelih pada hari ke tujuh, dicukur (rambutnya), dan diberi nama. (HR.
Tirmidzi no. 2735, Abu Dawud no. 2527, Ibnu Majah no. 3165. Hadits ini
dishahihkan oleh Al-Albani dalam kitab al-Irwa' no. 1165).
Sahabat Dream mungkin banyak yang bertanya tentang kalimat setiap anak
tergadaikan dengan aqiqahnya.
Nah, di antara pendapat para ulama adalah anak yang tidak diaqiqahkan lalu
meninggal dunia, maka anak itu tidak akan memberi syafaat bagi kedua orang
tuanya.
Hukum aqiqah anak adalah sunnah muakkad menurut jumhur ulama. Sedangkan
tata cara aqiqah sudah dijelaskan oleh para ulama dengan berdasarkan pada hadis
Rasulullah SAW di atas.
Waktu Terbaik Aqiqah
Dalam tata cara aqiqah sesuai sunnah Rasulullah, waktu terbaik untuk
melaksanakan aqiqah adalah di hari ke tujuh setelah kelahiran bayi.
Hal itu sudah diterangkan dengan jelas pada hadis yang diriwayatkan
Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ibnu Majah sebelumnya.
Lantas, bagaimana menentukan hari ke tujuh untuk melaksanakan aqiqah?
Disebutkan dalam Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyah bahwa jika bayi
lahir siang hari, maka sudah termasuk hari pertama dari tujuh hari.
Sedangkan jika bayi dilahirkan pada waktu malam, tidak termasuk dalam
hitungan. Hari pertama adalah hari berikutnya.
Misalnya, ketika bayi lahir hari Sabtu pagi, maka hari tersebut sudah
dianggap sebagai hari pertama dari tujuh hari. Sehingga orang tuanya akan
mengerjakan aqiqah pada hari Jumat minggu depannya.
Sebaliknya, jika bayi lahir Sabtu malam, maka hari pertamanya adalah hari
Minggu keesokan paginya. Sehingga orang tuanya boleh melaksanakan aqiqah pada
hari Sabtu minggu depannya.
Namun ada sebagian yang menggunakan tata cara waktu aqiqah pada 14 atau 21
hari setelah kelahiran bayi. Menurut Mazhab Syafi’i, aqiqah tetap dapat
dilaksanakan setelah melewati hari ke tujuh kelahiran bayi.
Bagaimana jika anak meninggal dunia sebelum aqiqah? Mazhab Syafi’i tetap
menganjurkan aqiqah walaupun anak tersebut telah meninggal dunia sebelum hari
ke tujuh.
Lalu bagaimana dengan tata cara aqiqah anak perempuan dan laki-laki yang
sesuai sunnah Rasulullah? Berikut adalah penjelasan tentang tata cara aqiqah
menurut Islam.
erikut tata cara aqiqah anak perempuan dan laki-laki sesuai sunnah.
1. Menyembelih Kambing aqiqah
Aqiqah identik dengan menyembelih kambing aqiqah. Namun,
di era modern ini, menyembelih kambing aqiqah untuk
aqiqah adalah hal yang merepotkan. Karena itu, banyak yang membeli masakan
kambing yang sudah siap digunakan untuk acara aqiqah anak.
Jumlah kambing aqiqah yang
disembelih untuk aqiqah berbeda antara anak perempuan dan laki-laki. Untuk
aqiqah anak perempuan orang tua menyiapkan satu ekor kambing. Sedangkan untuk
anak laki-laki, orang tua menyembelih dua ekor kambing.
Soal jumlah kambing yang disembelih untuk aqiqah anak perempuan dan
laki-laki ini telah disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan Abu Dawud.
Yang artinya: Dari Ummu Kurz ia berkata, " Aku
mendengar Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda 'Untuk seorang anak
laki-laki adalah dua ekor kambing dan untuk akan perempuan adalah seekor
kambing. Tidak mengapa bagi kalian apakah ia kambing jantan atau betina'."
(HR. Abu Dawud no. 2834-2835).
Syarat kambing yang disembelih untuk aqiqah anak perempuan dan laki-laki
ini sama dengan hewan kurban. Yaitu kambing yang berkualitas, baik dari segi
jenis hingga usia. Kambing tersebut juga harus bebas dari cacat dan penyakit.
Sebelum menyembelih kambing untuk aqiqah jepara, disunnahkan untuk membaca doa
sebagai berikut:
BISMILLAHI WA BILLAHI, ALLAHUMMA 'AQIQATUN 'AN FULAN
BIN FULAN, LAHMUHA BILAHMIHI SI AZHMIHI, ALLAHUMMAJ'ALHA WIQAAN LIALI
MUHAMMADIN 'ALAIHI WA ALIHIS SALAM.
Yang artinya: " Dengan nama Allah serta dengan
Allah, Aqiqah ini dari fulan bin fulan, dagingnya dengan dagingnya, tulangnya
dengan tulangnya. Ya Allah, jadikan aqiqah ini sebagai tanda kesetiaan kepada
keluarga Muhammad SAW."
Komentar
Posting Komentar